Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Halaman

Translate

Blogroll

BISNIS ANDA KITA

Plaza Sambut Liburan

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Agnes Pukau Penonton

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Jumpa Fans Artis Semarak

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Kotak Ngerock Abis

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Gaun Elegan ala My Secret

Curabitur et lectus vitae purus tincidunt laoreet sit amet ac ipsum. Proin tincidunt mattis nisi a scelerisque. Aliquam placerat dapibus eros non ullamcorper. Integer interdum ullamcorper venenatis. Pellentesque habitant morbi tristique senectus et netus et malesuada fames ac turpis egestas.

Selasa, 18 November 2008

Berburu Nomor Hp Cantik


Nomor cantik perdana menjadi incaran pengguna seluler, hingga merekapun rela mengeluarkan uang berapapun demi mendapatkan nomor yang diinginkan. Meskipun pada fungsinya sebenarnya sama saja untuk digunakan sebagai alat komunikasi. Alasan status sosial dan prestisepun menjadi isu utama mengapa orang mencari nomor cantik. Lantas mengapakah orang rela mencari nomor cantik selama ini?

PEKALONGAN - Memiliki nomor ponsel yang cantik memang menjadi kebanggan tersendiri bagi pemiliknya. Karena selain mudah untuk diingat, juga mengingatkan akan suatu kejadian atau peristiwa penting. Misalnya tanggal ulang tahun, pernikahan, dan lainnya. Namun demikian mencari nomor cantik tidak segampang membeli pulsa. Butuh waktu tersendiri untuk berburu mencarinya. Kalaupun ada harganya juga mahal.
Bahkan pernah di Taiwan, nomor cantik ponsel 0988888888 akan dilelang dengan harga awal selangit, yaitu 5 juta dolar Taiwan atau sekitar 1,5 milar rupiah (1 dolar Taiwan: Rp 288,8-sumber:xe.com) oleh perusahaan telekomunikasi Cina, China Telecom.
Dalam bahasa Kanton, delapan diucapkan 'fa' yang sama berarti 'menjadi kaya'. Di samping itu, dalam kepercayaan setempat, angka 88888888 berarti bisa jadi simbol 'menjadi kaya delapan kali terus menerus'. Maka tak heran jika nomor ponsel tersebut dijual begitu mahal. Demikian seperti dikutip detikINET dari China Post. Luar biasa bukan.
Memang demikianlah. Orang berani membayar mahal untuk mendapatkan nomor impiannya. Entah berapapun. Ini terjadi dimanapun dan pada nomor apapun.
Namun apakah keberadaan nomor cantik selalu ditunggu oleh masyarakat pada umumnya. Dimana peredaran nomor seluler dewasa ini semakin banyak saja. Orangpun lantas tidak lagi berpikir mencari nomor-nomor cantik untuk dimiliki. Alasannya simpel "mahal". Lha wong menggunakan nomor yang biasa juga bisa dan sama bisanya untuk melakukan panggilan.
Alasan utama mencari nomor ponsel yang cantik karena agar mudah diingat. Baik oleh dirinya sendiri maupun relasi bisnisnya. Disamping itu juga nomor dipercaya membawa hoki tersendiri.
Selain itu, alasan status sosial juga menjadi isu utama dalam memiliki nomor ponsel yang cantik. Seperti yang terjadi di Taiwan diatas.
Konsumen yang rela mencari nomor cantik bahkan keliling berbagai counter hp, menghubungi pihak terkait untuk memesan nomor cantik yang diinginkannya. Bahkan sampai-sampai ada operator seluler yang membrandingnya dengan pilih nomor suka-suka. Dengan harapan konsumen akan memilih nomor idamannya untuk digunakan sebagai nomor selulernya. Nah, bagaimana dengan nomor ponsel anda. Sudahkah cantik?. (dalal muslimin)

Perang Tarif Membingungkan Konsumen

PEKALONGAN - Perang tarif seluler makin gila-gilaan. Operator-operator besar berlomba-lomba menurunkan tarif baik untuk percakapan telepon maupun sms. Skema yang ditawarkan pun aneka ragam, mulai tarif per detik dan sekarang sampai puas. Namun punya satu kesamaan, sama sama bilang, “gue juga bisa kasih lebih murah”.
Disatu sisi, perang tarif ini menjadikan konsumen menjadi bingung. Apalagi yang tidak sempat berpikir panjang tentang tarif yang ditawarkan. Pada akhirnya juga, counter ikut bingung. Sebab, ketika konsumen bingung maka yang menjadi sasaran bertanya adalah counter setempat. Makanya, bila ada pertanyaan dari konsumen sering dijawab tidak tahu, daripada menimbulkan persoalan di konsumen.
Dengan adanya perang tarif, tentunya akan memberikan reaksi pada konsumen. Apakah langsung pindah nomor atau pindah operator ke operator lain, begitu mendengar ada tarif yang murah. Tapi tidak semua langsung pindah.
Mungkin ada yang begitu. Kadang malah muncul pertanyaan, “Apa betul murah?”. Kalau penasaran, disarankan, untuk mempelajari brosur iklan kemudian bikin perbandingan sederhana. Lihat syarat dan ketentuan. Kemudian dengan analisa masing-masing simpulkan memang ada yang murah, dan ada yang “tipuan” belaka.
Setelah itu apa? Apakah berlaku untuk seterusnya atau hanya pada masa promosi?
Jika memang berlaku untuk masa promosi yang cukup lama, mungkin saja itu bukan “tipuan” iklan semata. Tapi juga memunculkan pertanyaan what’s on earth yang bisa mempertahankan kualitas jaringan selama masa promosi. The next thing I know, jaringan malah suka ngadat pada masa promosi seperti ini.
Dulu waktu ada promo telepon gratis dari salah satu operator, telepon aja susah. Kalau bisa nyambung, cuma bertahan 10 menit. Operator yang bersangkutan kemudian minta maaf atas terjadinya lonjakan traffic pada jam-jam gratis tersebut.
“Penyakit” jaringan ngadat tersebut juga sudah terjadi di masa perang tarif seluler sekarang. Bukan cuma di kota besar, tapi juga di daerah pelosok. Uang nggak akan nipu. Orang bilang you will get what you paid for. Ini karena adanya desak-desakan panggilan.
Sekarang, ada banyak orang yang lebih kritis dan punya opini yang lebih jernih dalam menyikapi perang tarif saat ini. (dalal muslimin)

Senin, 17 November 2008

Panic Selling Penyebab Utama Krisis

PEKALONGAN - Krisis ekonomi global yang saat ini masih terjadi, sedikit demi sedikit mulai dirasaka oleh para pelaku bisnis. Dari barang elektronik, industri maupun properti. Tentunya ini mejadi pertanyaan, bagaimanakah keadaan bursa saham saat ini sebenarnya?

Memang melihat kondisi terakhir, terjadi penurunan yang sangat dalam dari IHSG (Indeks Saham Harga Gabungan), faktor penyebab utama adanya panic seelling dari investor asing yang membutuhkan likuiditas. Untuk menutup kerugian di negara asalnya.
Namun bukan berarti karena faktor fundamental imeten per emiten. Kalau dicek dari laporan keuangan kuartal ke-3 2008, menunjukkan adanya peningkatan laba dari banyak emiten. Itu belum menjadi sentimen yang positif untuk menaikkan harga saham.
Secara teori harga saham merupakan cerminan dari kinerja perusahaan, ketika kinerja perusahaan bagus tetapi harga saham turun. Berarti teori tersebut belum bisa menjelaskan. Dan, setelah dicari penyebabnya adalah adanya faktor kepanikan investor lokal. Investor asing butuh likuiditas dan salah satu cara menutup likuiditas dengan menjual portofolio saham mereka yang ada di pasar-pasar modal negara berkembang.
Jika melihat dampaknya, kini terjadi kenaikan beberapa produk elektronik di Pekalongan. Terkait dengan nilai kurs rupiah yang semakin melemah terhadap US Dollar. Berarti kita bicara diluar konteks pasar modal yakni ke pasar uang. Sektor riil juga akan kena imbasnya, karena barang elektronik merupakan salah satu industri atau komoditi yang banyak sekali kandungan impornya. Dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar maka harga barang-barang impor akan mengikuti kenaikan. Seperti elektronik dan industri.
Kepada para investor modal, agar tetap tenang tanpa melakukan panic selling. Tidak ada jalan lain, kalau sudah punya saham meskipun harganya turun, kalau saham masih memiliki fundamental yang baik, seperti blue chip. Dan dana tidak keburu untuk kebutuhan seperti prinsip investasi di pasar modal dana benar-benar nganggur, maka perlu ditahan dulu.
Saya yakin pasar tidak akan seperti ini terus. Belajar dari kejadian 1997 dan 1998, kejatuhan pasar modal lebih dalam dari sekarang. Terbukti setelah perekonomian baik, maka akan cepat pulih.
Kalau panik untuk menjual maka akan tidak tertutup kerugiannya. Justru dengan membiarkan dan menunggu harga saham balik kembali. Tidak saatnya juga untuk agresif membeli, mumpung masih murah, kemudian buru-buru membeli. Itu bukan keputusan bijaksana. Kita tunggu dulu pasar mereda kepanikannya. Lihat perkembangan kedepan bagaimana, baru setelah semua faktor menunjukkan sinyal yang positif kita baru bisa beli lagi. (dalal muslimin)

Sukses dan Arogansi

Seorang CEO dari perusahaan Fortune 100 mengatakan, “Success can lead to arrogance. When we are arrogant, we quit listening. When we quit listening, we stop changing. In today’s rapidly moving world, if we quit changing, we will ultimately fail.” (Sukses bisa membuat kita jadi arogan. Saat kita arogan, kita berhenti mendengarkan. Ketika kita berhenti mendengarkan, kita berhenti berubah. Dan di dunia yang terus berubah dengan begitu cepatnya seperti sekarang, kalau kita berhenti berubah, maka kita akan gagal).

Pembaca, itulah sisi negatif dari kesuksesan, yakni arogansi. Arogansi muncul saat seseorang merasa diri paling hebat, paling luar biasa, dan paling baik dibandingkan dengan yang lainnya. Penyakit mental ini bisa menjangkiti apa dan siapa saja, mulai dari organisasi, produk, pemimpin, sampai orang biasa. Khusus pada tulisan ini, kita akan membicarakan soal manusianya.

Orang sukses lalu bersombong ria sebenarnya patut disayangkan. Bayangkan saja, saat berjuang keras menggapai kesuksesan, mereka begitu terbuka untuk belajar. Mereka mau mendengarkan. Mereka mau berjerih payah, berani hidup susah, dan mengorbankan diri. Bahkan, mereka tampak sangat ‘merakyat’ hidupnya. Akan tetapi, itu dulu.

Sayang sekali, saat kesuksesan datang, mereka lupa diri. Mungkin dia akan berkata, “Saya sudah berhasil mencapai yang terbaik. Sekarang, Andalah yang harus mendengarkan saya. Saya tidak perlu lagi mendengarkan Anda.”
Hal itu diperparah lagi ketika mereka dikelilingi oleh para ‘yes man’ yang tidak berani angkat bicara soal kekurangan orang ini. Hal ini membuat orang itu semakin ‘megalomania’, pongah, angkuh, dan egois. Ia terbelenggu oleh kesuksesannya sendiri. Ia tidak pernah belajar lagi.

Saya teringat dengan seorang teman saya. Sebagai seorang pebisnis, dia menceritakan susah payahnya membangun bisnisnya. Cerita yang mengharukan sekaligus heroik ketika dia harus tidur di kolong jembatan saat tiba di Jakarta ketika remaja. Dengan susah payah dia merangkak dari bawah untuk bertahan hidup. Menikah tanpa uang sepeser pun. Hidup di rumah kontrakan kecil. Akan tetapi, dia tidak patah arang. Dia mengamati cara kerja orang sukses, mencontoh, dan memodifikasi sendiri produknya. Sekarang, dia pun berjaya. Tiga pabrik besar ada di genggamannya.

Namun, sayang sekali. Perusahan itu sedang diterpa badai masalah internal. Pemicunya tak lain adalah sikap pemimpin yang arogan. Dia otoriter dan antikritik. “Kalau saya bisa, kalian juga harus bisa,” katanya pongah. Dia pun menolak ide-ide baru. Dia mengelola perusahaan dengan serampangan. Turn over karyawan pun tinggi. Sisanya hanya kelompok para ‘penjilat’ yang tidak berani melawan. Dia menginginkan anak buahnya di-training. Padahal, dia sendiri yang perlu up date diri dengan training.

Arogansi bisa menghampiri siapa saja. Termasuk seorang pendidik, guru, dosen, bahkan seorang jurnalis, yang tiap hari memberi suatu bagi orang lain. Saya pernah mendengar kisah tentang seorang trainer yang begitu arogan. Dia sempat membuat banyak orang berdecak kagum. Buku-buku best seller pun lahir di tangannya. Akan tetapi, arogansi membuatnya ‘dibuang’ dari komunitas di negaranya. Celakanya, sang trainer menyalahkan para rekannya. Dia pun dikelilingi oleh mereka yang selalu berkata ‘ya’ padanya.

Dari situ, kita belajar banyak untuk hati-hati. Kesuksesan jangan membuat kita arogan dan cenderung self centered serta tidak mau mendengarkan orang lain. Dunia begitu mengenal sosok Soekarno, Soeharto, Mao, Hitler, ataupun Stalin. Mereka berjuang dari basis bawah menuju pucuk kepemimpinan. Mereka pun berjuang untuk perubahan di masyarakatnya. Idealisme mereka sangat luar biasa. Orang pun dibuatnya kagum. Namun, mereka lupa daratan ketika sukses. Mereka memonopoli kebenaran tunggal alias antikritik dan anti pembaruan. Mereka memimpin dengan tangan besi. Korban pun bergelimpangan dari tangannya. Begitu juga dalam sejarah bisnis. IBM yang begitu besar dan terkenal pernah mengalami kemerosotan saat arogansi membekap sikap dan pikiran para pemimpin mereka. Semoga bisa menjadi renungan bersama. (dalalm: berbagai sumber)