Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Halaman

Translate

Blogroll

BISNIS ANDA KITA

Rabu, 26 November 2008

Celana Pensil dan Sackdress Tantang Pekalongan

Dunia fashion selalu mengalami perubahan dengan cepat dengan beragam faktor yang mendukungnya. Seperti halnya dengan celana model pensil dan baju sackdress yang kini sedang menjajal pemasarannya di Pekalongan. Apakah pensil dan sex dress mampu menjadi model yang diikuti masyarakat di Pekalongan yang notabene terkenal santri?

PEKALONGAN - Perkembangan dunia fashion akan selalu cepat dan tak akan terbendung. Selain didukung banyaknya ragam variasi yang kini sedang booming. Teknologi informasi juga menjadi salah satu pendukung dalam promosi produk kepada masyarakat. Seperti dewasa ini, celana bentuk pensil dan baju sackdress yang sedang musim di masyarakat.
Seperti terlihat di Iwan Fashion Pekalongan. Arif, sang pengelola menuturkan bahwa model pensil sekarang sedang ramai-ramainya di pasaran. Ini terjadi sebagai bentuk apresiasi warga terhadap model terbaru celana, baik untuk pria maupun wanita. Pensil marak di pasaran mulai sekitar awal November lalu.
Menurutnya, ini dipacu dengan ditariknya beberapa model yang sebelumnya beredar. Seperti model celana gombrong dan lurus. Saat ini kecenderungan masyarakat lebih memilih celana dengan model mengecil pada ujung kakinya. Tentu ini menjadi peluang bisnis tersendiri bagi para produsen celana.
Namun demikian jangan salah, kalau pangsa pasar di Pekalongan belum begitu tergarap dengan baik. Sebab, selain pola pikir masyarakat yang tidak begitu memikirkan dengan model-model terbaru. Masyarakatpun terkesan apa adanya dengan penampilan yang sudah ada. Ganti bajupun seakan bukan sesuatu yang penting.
Celana pensil yang lagi trend ini kebanyakan di suplay dari luar kota, seperti Jakarta. Bahkan beberapa produk impor didatangkan langsung dari China. Perbedaan dari keduanya tentu menjadi persaingan sendiri di pasaran.
Beda keduanya mulai dari model, ukuran diameter, hingga harga. Celana pensil impor lebih variatif dengan gayanya. Dari sekedar variasi warna. Bentuk saku yang beragam. Dari kotak biasa, oval bahkan bentuk bordilan juga ada. Sedangkan produk lokal hanya mengandalkan pada variasi warna saja. Sehingga terlihat gayanya agak monoton. Tentu saja, ini menjadi perbedaan yang mencolok.
Hargapun agak terpaut sedikit saja. Untuk pensil lokalan dibandrol sekitar Rp 149 ribuan sedangkan pensil impor harganya berkisar Rp 200 ribuan.
Selain celana pensil, saat ini yang sedang digemari adalah pakaian sackdress . Modelnya yang feminim membuat pemakainya akan 'semriwing' ditiup angin. Meskipun ini bukanlah menjadi pilihan yang ramai bagi warga Pekalongan yang terkenal santri. Ini menjadi tantangan tersendiri dalam memasarkan produk tersebut. Namun dengan sedikit kombinasi akan menjadikannya tetap tampak anggun saat dipakai. Misalnya dengan mengunakan pakaian panjang dan jilbab, untuk kemudian memakai pakaian tersebut. Corak bunga dan motif lainnya memang sangat menarik untuk dipakai saat jalan-jalan refreshing. Tak sekedar itu, baju ini juga pantas untuk dijadikan baju tidur. Untuk harga dipatok sekitar Rp 189 ribuan.
Lantas, apakah celana pensil dan sackdress benar-benar akan menjadi model bagi kalangan muda di Pekalongan. Lihat saja perkembangannya. (dalal muslimin).

0 komentar