Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Halaman

Translate

Blogroll

BISNIS ANDA KITA

Senin, 08 Juni 2009

Kerajinan Tanah Liat Masih Bertahan

KREASI - Seorang Pengrajin sedang berkreasi membuat wadah ari-ari dengan alat yang masih sederhana.

Ditengah maraknya alat penyimpanan uang moderen seperti brangkas, kerajinan tanah liat untuk membuat pundi uang (celengan) masih mencoba bertahan. Pangsa pasarnya juga masih ada tersendiri di kalangan masyarakat. Bagaimana pembuatannya?

**Menilik Kerajinan Celengan di Desa Wonorejo Wonopringgo Kabupaten Pekalongan.

PEKALONGAN - Sebagian besar warga Desa Wonorejo, Legok Kalong, Wonopringgo merupakan pengrajin dan pengepul celengan yang terbuat dari tanah liat. Mereka bertahan di tengah maraknya alat penyimpanan uang moderen, seperti brangkas. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri bagi para pengrajin.
Selain membuat celengan, mereka juga membuat tempat penyimpan ari-ari bayi lengkap dengan tutupnya, serta cobek yang juga terbuat dari tanah liat.
Seperti Sarliah (62), salah satu pengrajin yang membuat celengan, wadah ari-ari dan cobek menuturkan, "Proses pambuatan sangat mudah. Sebelumnya tanah dijemur terlebih dahulu, kemudian disiram dengan sedikit air, diinjak-injak agar tanahnya cepat lembek. Selanjutnya dibentuk. Untuk satu buah celengan cukup memakan waktu 1 menit," ujarnya. Nenek satu cucu ini, setiap harinya bisa membuat wadah ari-ari sebanyak 50 buah, bahkan bisa lebih tergantung dari cepat tidaknya proses pelembekan tanah.
Daerah pemasarannya mencakup Pemalang, Batang, Purbalingga, bahkan sampai Banjarnegara. Ukuran celengan ada tiga macam, yang kecil dihargai Rp 250, sedang Rp 500, dan besar Rp 1000. Wadah ari-ari ini nantinya akan disetorkan pada pengepul yang juga masih satu desa, "Untuk 100 buahnya dihargai Rp 20 ribu," imbuhnya.
Musholikhin (26) salah satu pengepul menambahkan, "Biasanya saya menerima baik celengan, wadah ari-ari, maupun cobek, dalam keadaan setengah jadi. Setelah itu saya bakar dalam suatu tungku khusus. Untuk membakarnyapun harus ekstra hati-hati, karena bila apinya tidak rata dan terlalu panas, barang-barang bisa pecah. Dan membutuhkan waktu tiga hari sampai barang benar-benar jadi," ungkapnya.
Tentunya para pengrajin ini harus terus berkreasi dan berinovasi. Sehingga produksinya akan tetap menarik di hati konsumen dan akan tetap laris di pasaran. (dalal/anis)

0 komentar