Diberdayakan oleh Blogger.

Total Tayangan Halaman

Translate

Blogroll

BISNIS ANDA KITA

Kamis, 11 Juni 2009

Taplak dan Sajadah Benang Sigi Lebih Cerah

MENENUN - Salah satu karyawan sedang menenun taplak yang terbuat dari benang sigi.

Usaha tenun yang ada di Pekalongan saat ini selalu mencoba untuk berkreasi. Ini mengingat usaha tenun konvensional sudah sedikit langka. Seperti apakah?

**Bertahan Menggunakan Cara Konvensional Dengan Hasil Memuaskan
BUARAN - Tenun konvensional yang menghasilkan karya-karya terbaiknya kini sudah mulai langka. Hal ini, mengingat perkembangan teknologi saat ini sudah sedemikian cepatnya. Sehingga produk tenun sudah tidak lagi menggunakan cara konvensional tapi menggunakan peralatan teknologi mesin yang lebih cepat dan banyak kuantitas produksinya.
Adalah Pak Tasaud (52), salah seorang pengusaha tenun yang kini masih bertahan untuk melakukan profesinya. Dirinya membuat taplak dan sajadah, yang terbuat dari benang sigi. Usaha tenun yang berlamat di Pakumbulan Buaran ini sudah berjalan selama 8 tahunan, yakni dari 2001 hingga 2009.
Motif produk yang dihasilkan oleh bapak 2 orang ini hanya satu corak yaitu motif polos. "Keunggulan dari produk taplak dan sajadahnya lebih bagus dan warnanyapun lebih cerah dibanding dengan produk orang lain," jelasnya.
Harga produksi taplak juga bervariasi, dimana untuk ukuran 90 cm dihargai sekitar Rp 6.000, sedang untuk taplak jenis rombe dihargai Rp 10.000. Sedangkan sajadah harganya dikisaran Rp 20.000.
Dijelaskan, proses pembuatan taplak dan sajadah juga melalui beberapa tahapan yang cukup menghabiskan waktu. "Mulai dari benang diikal, diketeng, dicucuk, kemudian ditenun. Untuk proses tenun sendiri memerlukan waktu sekitar 6 minggu untuk 1 bom atau untuk 1 gulung," seperti yang dituturkan Aam (25) salah satu karyawan Pak Tasaud.
Pihaknya mendapatkan bahan baku dari pemasok yang berasal dari desa Pekajangan. Setelah selesai pihaknya memasarkan produknya hingga keluar kota. Seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan tak ketinggalan Pekalongan sendiri.
Dia berharap produk taplak dan sajadahnya tetap laku dipasaran dan tetap disukai konsumen. Meskipun masih mempertahankan cara pembuatan konvensional. Karena hasilnya juga tidak kalah memuaskan dengan produk pabrikan. (anis/dal)

0 komentar